CLBK: Chating Lama Beli Kaga, Strategi Menangani Price Shopper Pada Bengkel Mobil

CLBK, Chating Lama Beli Kaga, atau telepon doang beli mah nggak. Itu mungkin yang sering dikeluhkan oleh pedagang, khususnya pedagang on line. Di era kemudahan teknologi informasi saat ini pelanggan mempunyai banyak pilihan sebelum memutuskan melakukan transaksi. Mereka akan mencari informasi sebanyak mungkin mengenai harga, layanan dan apa saja yang mereka dapatkan sebelum memutuskan membeli. Hal ini bisa dilakukan melalui chating,  melalui telepon yang kita kenal dengan istilah price shoper phone.




Para pelaku bisnis bengkel mobil juga sering menghadapi masalah ini. Seperti kita ketahui bisnis bengkel mobil adalah menjual jasa yang menjual jam kerja. Jika waktu banyak dihabiskan melayani price shoper yang tidak bisa dikonversi menjadi transaksi tentu saja akan sangat merugikan bengkel tersebut, terlebih lagi bila bengkel tersebut baru berkembang dan tidak memiliki orang khusus untuk menangani telepon. Untuk bengkel-bengkel kecil yang dikelola secara mandiri terkadang pemilik bengkel masih merangkap sebagai teknisi, administrasi dll. Terbayangkan produktivitas  bengkel yang menurun jika kita tidak menangani price shoper ini dengan benar.

Salah satu hal yang sering diperdebatkan dalam dunia bisnis bengkel mobil adalah tentang perlukah memberikan informasi harga kepada pelanggan melalui telepon. Kebanyakan bengkel sangat enggan melayani pelanggan yang menanyakan harga melalui telepon karena menganggap pelanggan tersebut hanya cek harga untuk membandingkan mana yang termurah.
Namun menurut para pakar marketing, price shoper pada bengkel mobil jika ditangani dengan benar sebenarnya dapat digunakan untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Saat pelanggan akan melakukan perbaikan mobil, khususnya perbaikan yang cukup berat, mereka biasanya ingin mengetahui perkiraan biaya yang akan dihabiskan. Pelanggan tentu saja tidak ingin main datang begitu saja ke bengkel tapi kemudian tidak bisa membawa mobilnya kembali pulang karena dananya tidak cukup. Sehingga sebelum datang ke bengkel mereka berusaha mencari informasi tentang berapa banyak biaya yang dibutuhkan dan berapa lama pekerjaan tersebut dilakukan.


Ada sebuah penelitian yang dilakukan untuk mempelajari price shopper dan bagaimana pelanggan merespon pada strategi bengkel dalam hal memberikan harga melalui telepon. Hasilnya cukup mencerahkan yang dapat menginspirasi pemilik bengkel menciptakan sebuah proses baru menghadapi price shopper. Berikut akan kita bahas beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap bengkel menghadapi price shopper tersebut.

Secara umum ada tiga alasan mengapa pelanggan menelepon untuk menanyakan harga :
  1. Pelanggan price shopper yang ingin mengetahui harga termurah dan melakukan transaksi pada siapa yang menawarkan harga termurah.
  2. Pelanggan yang memang langganan Anda. Pada kunjungan mereka terakhir ke bengkel, Anda memberikan estimasi untuk sebuah perbaikan, namun pelanggan lupa dan mereka menelepon untuk menanyakan harga tersebut kembali.
  3. Pelanggan yang tidak puas dengan bengkel lain dan sedang berusaha mencari bengkel yang dapat menyelesaikan masalah mereka. Pada bisnis bengkel umum kedekatan personal sangat penting, kebanyakan pelanggan mencari bengkel untuk memperbaiki mobilnya dengan orang yang sudah mempunyai hubungan baik sebelumnya. Disini harus ada unsur kepercayaa, karena ketika pelanggan menyerahkan mobilnya ke bengkel, Ia akan memasrahkannya ke tangan Anda.

Ok, lalu apa yang harus kita lakukan ketika menerima telepon dari pelanggan yang menanyakan harga..?. Jawablah dengan pertanyaan:

Apa yang terjadi...?

Kenapa dengan mobilnya..?

Jika pelanggan tersebut memang sedang mencari bengkel lain untuk perbaikan mobilnya, maka tanyakanlah apa yang terjadi pada mobil tersebut. Hal ini akan menunjukkan kepedulian kita terhadap masalah yang dihadapi oleh pelanggan. Kita tidak dianggap hanya ingin melakukan transaksi bisnis semata. Kita berusaha untuk memberikan solusi pada masalah pelanggan. Hal ini sangat sederhana namun sudah terbukti cukup ampuh.


Pada poin tersebut strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan perkiraan biaya untuk melakukan pengetesan untuk mengetahui masalah pada mobil. Jangan takut memberikan harga jika itu yang memang pelanggan inginkan. 
Saat memberikan harga, tambahkan keterangan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, part apa saja yang dibutuhkan dan mengapa hal tersebut harus dilakukan baru kemudian berikan harga estimasinya. 

Kemudian, undang pelanggan untuk datang ke bengkel. Jangan pernah menutup telepon tanpa menanyakan apakah pelanggan bersedia melakukan pemeriksaan ke bengkel. Terlepas pelanggan setuju atau tidak nantinya, selalu tanyakan, "Apakah Anda bersedia membawa mobil ke bengkel kami..? Jika Anda membawanya sekarang kemungkinan sore nanti mobil bisa selesai. 

Dari hasil penelitian mengungkapkan, umumnya bengkel menjawab price shopper dengan sopan, mengucapkan terimakasih dan menutup telepon. Namun ketika mereka tidak mencoba mengundang pelanggan untuk datang ke bengkel, pelanggan menganggap itu sebuah tanda penolakan secara halus.

Jika pelanggan hanya menelpon untuk mencari harga termurah, mereka tidak akan tertarik dengan pembicaraan yang kita bangun. Biasanya setelah ditanya, "Ada masalah apa dengan mobilnya ?' , pelanggan menjawab hanya ingin tahu harga saja maka pelanggan tersebut dikategorikan price shopper. Mereka tidak ingin bicara lebih banyak. Jika Anda mengahdapi hal tersebut tetap berikan estimasi biaya yang diminta dan tetap akhiri dengan undangan " Kira-kira kapan mobilnya di bawa ke bengkel...?".

Bengkel berusaha mendapatkan pelanggan yang ingin membeli layanannya. Layanan yang dijual adalah menyelesaikan permasalahan pada mobil sampai tuntas. Anda dapat melihat senyum seseorang melalui suaranya saat bertelepon. Selalu ucapkan terimakasih karena sudah menelepon. Yakinkan penelepon tersebut bahwa Anda adalah sahabatnya. 



0 Response to "CLBK: Chating Lama Beli Kaga, Strategi Menangani Price Shopper Pada Bengkel Mobil"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel