Metode Pengganjian Mekanik Bengkel Mobil

1:24 AM

Menentukan Metode Pengganjian Mekanik Bengkel Mobil Yang Paling Cocok Dengan Bengkel Anda


Memilih dan menentukan sistem penggajian mekanik bengkel mobil yang paling cocok dengan jenis bengkel merupakan proses yang cukup rumit.

Setiap skema penggajian yang dipilih selalu pasti ada untung ruginya yang dapat memberikan dampak yang berbeda-beda pada setiap bengkel.

Skema penggajian tertentu mungkin cocok diterapkan pada jenis bengkel tertentu pada suatu lokasi, namun belum tentu berjalan dengan baik jika diterapkan pada lokasi atau daerah lain.



Metode Pengganjian Mekanik Bengkel Mobil
Metode Pengganjian Mekanik Bengkel Mobil



Selalu ada pro dan kontra dalam segala hal. Skema  sistem penggajian yang ingin diterapkan harus mempertimbangkan beberapa faktor sesuai kebutuhan, seperti jenis bengkel dan lokasi dimana bengkel berada.

Pilihlah skema penggajian yang dapat menyeimbangkan antara keuntungan yang diperoleh dan  bagaimana menjaga motivasi teknisi. Sistem yang diterapkan harus dapat memberikan keuntungan pada semua pihak.

Tidak ada satu skema sistem penggajian yang baku untuk setiap bengkel, para pemilik bengkel dapat melakukan kombinasi metode penggajian karyawannya untuk meningkatkan produktivitas bengkel.

Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan sebagai dasar menentukan skema penggajian teknisi yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bengkel.



13 Tips Untuk Menentukan Skema Penggajian Teknisi 




Pahami Kondisi Keuangan Usaha Bengkel 

Pemilik bengkel harus memahami betul kemampuan keuangan yang ada untuk membayar gaji teknisi di bengkel. Pelajari secara detail laporan keuangan bengkel untuk mengetahui berapa pengeluaran dan pemasukan bengkel secara keseluruhan.



Membuat Perkirakan Kondisi Keuangan

Buat rencana dan visi yang jelas tentang arah usaha ditinjau dari sudut keuangan. Buatlah  target 12 bulan ke depan mengenai volume kerja yang dapat dilakukan di bengkel, total pemasukan dan keuntungan bersih yang didapatkan.

Buat perkiraan keuntungan kotor dari jasa dan sparepart apakah sesuai dengan skema penggajian yang ingin diterapkan dan masih menyisakan keuntungan untuk bengkel. Apapun skema penggajian yang ingin diterapkan,  bengkel harus mampu menghasilkan margin laba kotor 68-72 persen dari jasa teknisi.



Faktor Suasana Kerja Yang Ingin Dibentuk 

Dalam menentukan skema penggajian teknisi perlu dipertimbangkan faktor suasana kerja yang ingin dibentuk di dalam bengkel dan faktor rasa memiliki yang tinggi pada setiap karyawan.
Jika ingin menciptakan suasana bengkel dengan budaya  kerja sama dan kekeluargaan yang tinggi mungkin dapat mempertimbangkan memberikan  insentif secara tim atau bersama di dalam skema penggajian karyawan.

Salah satu strategi adalah dengan memberikan target jam kerja yang harus dicapai keseluruhan tim agar mendapatkan insentif atau bonus dan menetapkan besarnya insentif yang akan diterima setiap anggota tim jika mencapai target yang telah ditetapkan.



Mengetahui Dengan Pasti Jumlah Teknisi Yang Dibutuhkan Bengkel

Buatlah kalkulasi mengenai volume pekerjaan dan jumlah jam kerja yang dibutuhkan oleh bengkel agar dapat menghasilkan keuntungan setiap bulannya.

Bagilah jam kerja yang dibutuhkan dengan rata-rata efektivitas teknisi agar dapat mengetahui berapa banyak teknisi yang dibutuhkan untuk menghasilkann volume pekerjaan yang diharapkan.

Kemudian pelajari berapa banyak pekerjaan yang harus dihasilkan teknisi di bengkel untuk mencapai target bengkel.



Tetapkan Target Produktivitas Dan Efisiensi

Tentukan target jam kerja yang harus dihasilkan teknisi setiap bulannya dan efisiensi yang ingin dicapai. Bengkel harus menargetkan efisiensi 100 persen pada semua teknisi.

Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi teknisi adalah dengan menerapkan  skema penggajian yang berdasarkan pada produktivitas teknisi, seperti sistem Flat Rate.


Metode flate rate membantu bengkel mendapatkan margin keuntungan jasa secara lebih efektif, karena tidak akan mengeluarkan uang akibat kerja teknisi yang tidak efisien.

Jika teknisi menghabiskan waktu sekitar 5 jam untuk melakukan penggantian waterpump yang seharusnya dapat dilakukan dalam waktu 3.5 jam, maka teknisi tersebut hanya akan mendapatkan  pembayaran sebesar 3.5 jam.

Dengan skema ini teknisi akan berusaha untuk melakukan pekerjaan secepat mungkin karena dibayar berdasarkan efektifitas kerjanya. Semakin cepat teknisi menyelesaikan pekerjaannya maka akan berpeluang mendapatkan uang lebih banyak.



Memberikan Insentif Bila Mencapai Target 

Tujuan menerapkan skema penggajian  berdasarkan produktivitas teknisi adalah agar karyawan terlibat aktif mengikuti arahan untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal bagi bengkel.

Jika mampu melampaui target yang ditentukan, teknisi dapat diberi insntif yang bisa berupa uang, kenaikan upah atau bahkan hadiah-hadiah kecil lainnya yang dapat menambah motivasi.



Pahami Motivasi Setiap Karyawan Yang Berbeda-beda

Tidak semua teknisi dapat digerakkan oleh motivasi yang sama. Beberapa teknisi mungkin akan termotivasi karena alasan uang semata, namun ada juga teknisi yang termotivasi dengan adanya hari libur atau pemberian upah lembur ketika harus bekerja dihari liburnya atau ada juga yang termotivasi ketika diapresiasi dengan sesuatu yang personal.

Oleh karena itu sangat penting bagi pemilik bengkel untuk memahami karakter semua teknisi yang ada dibengkelnya.

Ajaklah setiap teknisi untuk berbicara secara personal satu persatu untuk memahami kemauan dan karakter mereka masing-masing.



Hati-Hati Ketika Menerapkan Sistem Penggajian Yang Tetap

Kurangnya produktivitas merupakan masalah terbesar dengan sistem penggajian yang tetap.
Teknisi akan dibayar dengan gaji yang tetap terlepas mereka bekerja atau tidak.

Sistem penggajian secara tetap kurang cocok diterapkan di bengkel yang tingkat disiplin dan motivasi teknisinya rendah.

Beberapa teknisi akan bekerja dengan performa sekedarnya saja yang akhirnya dapat memberikan efek negatif kepada yang lainnya, hal ini dapat terjadi karena mereka merasa tidak ada resiko secara finansial bila mereka tidak bekerja secara produktif.



Perlunya Memastikan Unit Entry Selalu Stabil 

Walaupun sistem penggajian yang berdasarkan produktivitas dapat memberikan motivasi  kepada teknisi, namun mereka tidak akan mau bekerja di bengkel yang jumlah unit entry-nya tidak stabil.

Teknisi pasti ingin mengetahui berapa banyak mobil yang masuk ke bengkel yang dapat mereka kerjakan untuk mendapatkan uang. Jika bengkel selalu sepi maka teknisi akan segera mencari tempat kerja yang lain



Memberi Ruang Untuk Berkembang

Skema penggajian teknisi harus dirancang dengan tujuan dapat membuat teknisi berkembang dan memotivasi mereka untuk meningkatkan karir mereka.

Jadi pahamilah apa yang ingin dicapai oleh karyawan menyangkut karir dan masa depannya.

Sebagai contoh, skema penggajian dengan bayaran perjam mungkin memberikan dampak yang bagus pada teknisi level bawah yang hanya mampu melakukan penggantian ban atau oli dan tidak mempunyai keinginan meningkatkan kompetensinya.

Namun untuk teknisi level menengah dan ahli, pemilik bengkel perlu mempertimbangkan metode penggajian yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan penghasilannya.


Teknisi yang mempunyai motivasi tinggi pada umumnya selalu ingin menghasilkan uang yang lebih banyak lagi dan akan selalu mencari cara bagaimana untuk mencapai hal tersebut.

Jika di bengkel sudah tidak ada cara lagi yang memungkinkan bagi teknisi tersebut untuk meningkatkan penghasilannya, mereka  biasanya akan kehilangan motivasi kerja dan mulai berpikir untuk mencari tempat kerja yang lain.

Maka perlu dipertimbangkan untuk menaikkan ongkos kerja perjamnya teknisi tersebut atau menaikkan upah berdasarkan pencapaian training yang telah dicapai teknisi tersebut dan sesuai dengan kontribusinya pada perkembangan bengkel.



Mempertimbangkan Tanggung Jawab Teknisi

Jelaskan dengan terang benderang mengenai aturan kerja pada setiap teknisi. Teknisi yang juga diserahi tanggung jawab dan tugas di luar pekerjaan utama mereka memperbaiki mobil harus diberi kompensasi yang berbeda.

Sebagai conto , Mungkin ada teknisi senior yang juga diserahi tanggung jawab untuk mengawasi kwalitas hasil pekerjaaan bengkel secara keseluruhan  sehingga teknisi tersebut  tidak dapat fokus melakukan perbaikan mobil di bengkel, maka teknisi senior tersebut layak diberi bayaran lebih atas perannya tersebut.



Penerapan Skema Penggajian Yang Berbeda-beda Pada Setiap Teknisi 

Skema penggajian yang ditawarkan kepada setiap teknisi tidak harus sama dengan yang lainnya, apa yang ditawarkan kepada teknisi yang satu belum tentu perlu ditawarkan kepada teknisi yang lainnya.

Mungkin  paket benefit yang diterima karyawan dapat disamakan, namun gaji aktual yang diterima masing-masing teknisi tidak harus sama  atau dapat dihitung dengan metode yang berbeda.

Buat sistem penggajian berdasarkan besarnya kontribusi masing-masing teknisi kepada bengkel dengan mempertimbangkan faktor senioritas, masa kerja, skill dan pencapaian dalam hal training.



Jangan Dibuat Rumit

Skema penggajian harus dibuat sesederhana mungkin dan  terukur secara pasti sehingga dapat dikelola dengan baik oleh karyawan bagian pembukuan.
Jangan dibuat terlalu rumit agar setiap orang dapat memahaminya.



Skema Penggajian Kombinasi

Mungkin hanya ada satu sistem penggajian yang cocok dengan bengkel Anda, seperti: bayaran perjam, gaji pokok yang tetap, flat rate, komisi dll.

Namun bisa saja melakukan kombinasi dari sistem penggajian tersebut untuk menciptakan kepuasan karyawan, meningkatkan produktivitas dan menciptakan budaya kerja di bengkel sesuai dengan harapan.




Melakukan Kombinasi Skema Penggajian Teknisi

Bengkel dapat menkombinasikan beberapa skema penggajian teknisi untuk mencapai keuntungan bengkel dan menjaga motivasi teknisi dalam bekerja.

Penerapan skema penggajian flat rate saja kadang tidak berhasil jika unit entry bengkel kecil, karena dengan metode ini teknisi tidak mendapatkan bayaran jika sama sekali tidak ada mobil yang masuk ke bengkel.
Sedangkan dengan skema penggajian bulanan secara tetap tidak dapat membangkitkan motivasi teknisi agar bekerja secara efektif.

Mungkin jalan tengah yang dapat diambil adalah dengan mengkombinasikan kedua metode tersebut: Memberikan gaji bulanan dan insentif berdasarkan produktivitas.

Pemberian gaji bulanan untuk memastikan teknisi tetap mendapatkan penghasilan walaupun bengkel sedang sepi dan pemberian bonus untuk memacu produktivitas teknisi.

Selain itu juga dapat diberikan bonus untuk mengikuti training-training bagi teknisi yang produktif untuk meningkatkan skillnya dan idealnya memberikan tambahan insentif untuk setiap sertifikat yang didapatkan oleh teknisi.

Sistem ini mungkin sangat ideal, dimana teknisi terjamin untuk tetap mendapatkan gaji saat bengkel sedang sepi dan akan mendapatan bonus jika bekerja lebih produktif.

Sebelum menerapkan sistem penggajian diatas harus dipastikan terlebih dahulu bahwa unit entry atau volume pekerjaan yang masuk ke bengkel selalu stabil.

Sistem insentif yang diterapkan harus realistis dan dapat dicapai oleh teknisi dan skema ini hanya dapat diterapkan pada bengkel yang memang ramai.


Saat akan merekrut teknisi baru, banyak para teknisi yang ragu atau tidak mau menerima metode penggajian flate rate, karena mereka  mengetahui unit mobil yang masuk ke bengkel perharinya.

Teknisi biasanya tidak mau berjudi menerima metode penggajian flat rate dan menghasilkan sedikit uang dibandingkan pekerjaan mereka terdahulu.

Metode penggajian yang bisa ditawarkan untuk merekrut teknisi baru tersebut dapat berupa gaji mingguan plus flat rate. Penerapan metode tersebut memberikan beberapa keuntungan:

Pertama, lebih mudah merekrut teknisi karena adanya kepastian penghasilan dengan memberikan gaji pokok mingguan

Kedua, dengan adanya gaji pokok maka teknisi akan bersedia jika diberikan pekerjaan lain diluar tugas pokoknya memperbaiki mobil, sebagai contoh jika teknisi dibutuhkan melakukan tugas lain diluar bengkel seperti menjemput dan mengantarkan mobil pelanggan.

Teknisi yang murni dibayar dengan metode flat rate tentu saja akan menolak melakukan pekerjaan yang akan mengurangi produktivitas mereka.


Berdasarkan pengalaman berbagai sumber tidak disarankan memberikan gaji pokok yang terlalu tinggi. Jika teknisi merasa terlalu nyaman dengan gaji pokok yang diterima biasanya akan cenderung kurang produktif untuk mengejar tambahan insentif.
Hal ini perlu dilakukan untuk memperoleh keseimbangan antara rasa nyaman dengan gaji pokok dan motivasi untuk mendapatkan insentif.

Pemberian gaji pokok tanpa adanya insentif akan membuat teknisi bekerja seadanya atau tidak bekerja secara efisien dalam mengejar produktivitas, karena tidak ada alasan atau yang memotivasi teknisi untuk bekerja lebih cepat dan lebih cerdas.

Tidak perduli mereka bekerja atau tidak, mereka akan mendapatkan bayaran yang sama perminggu atau perbulan. Hal ini akan memicu rendahnya produktivitas. Skema penggajian yang menggabungkan pemberian gaji pokok dan insentif biasanya akan menghasilkan produktivitas yang lebih baik.


Artikel Terkait

Latest
Previous
Next Post »